Senin, 04 April 2011

PENGEMBANGAN TANAMAN MELON DI LAHAN GAMBUT DENGAN BUDIDAYA INOVATIF


I. PENDAHULUAN 

1. 1. Latar Belakang 
Dengan mempertimbangkan tren perkembangan populasi, kesejahteraan masyarakat serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi maka akan terjadi peningkatan kebutuhan terhadap tanaman hortikultura, khususnya buah-buahan. Salah satu komoditas buah-buahan yang menjadi prioritas dan perlu mendapat perhatian adalah tanaman melon (Cucumis melo L.). Tanaman melon termasuk salah satu jenis tanaman buah-buahan semusim yang mempunyai arti penting bagi perkembangan sosial ekonomi khususnya dalam peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat dan perluasan kesempatan kerja.

Melon kini berkembang sebagai komoditas agribisnis. Melon memiliki nilai ekonomi dan prospek yang cukup besar dalam pemasarannya namun memerlukan penanganan intensif dalam budidayanya. Komoditas ini diminati oleh masyarakat dan mempunyai harga yang relatif tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan akan melon bagi masyarakat Palangka Raya masih harus didatangkan dari luar kota. Jika melihat potensi lahan yang tersedia di kota Palangka Raya dan sekitarnya, sangat memungkinkan untuk budidaya tanaman melon. Namun demikian,
karena tanaman melon masih tergolong jenis tanaman yang relatif baru menyebabkan pengetahuan petani tentang teknik budidaya melon yang baik dan benar masih terbatas sehingga masih sangat sedikit petani yang mengusahakan tanaman ini.
Wilayah kota Palangka Raya dan sekitarnya memiliki beberapa jenis tanah. Salah satu jenis tanah yang banyak terdapat di kawasan tersebut adalah lahan gambut. Dengan penerapan teknologi budidaya, lahan gambut yang relatif dekat perkotaan atau memiliki akses yang baik, berpotensi untuk dikelola menjadi lahan yang produktif untuk budidaya tanaman buah semusim yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti melon.
Bertani di lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi, penurunan permukaan gambut, rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, dan pH yang sangat masam. Selama ini, untuk mengatasi kendala kesuburan lahan gambut pada umumnya dilakukan pemberian abu bakaran gambut, kapur dan pemberian pupuk kimia. Penggunaan abu bakaran gambut sebagai amelioran sangat tidak dianjurkan karena jika dilakukan terus menerus gambut akan menipis sehingga fungsi gambut sebagai pengatur air/hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati serta sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang mampu meredam
perubahan iklim global akan berkurang. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar, menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan.
Selain itu, pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran, baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan, sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia, selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi, juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi. Dalam era lingkungan dan globalisasi, orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi.
Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan
limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietas-varietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik.
Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang budidaya tanaman melon di lahan gambut dengan teknik budidaya inovatif, yaitu memadukan beberapa teknik budidaya ramah lingkungan seperti pembukaan lahan tanpa bakar, pengolahan tanah minimum (minimum tillage), pemanfaatan gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah/pot bagi tanaman, pemanfaatan limbah pertanian seperti abu serbuk gergaji dan pupuk kandang sebagai amelioran sehingga dapat mengurangi penggunaan kapur, pemberian amelioran hanya pada lubang tanam untuk efisiensi dan penggunaan pupuk organik padat (POP) untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik serta menananam varietas adaptif.

1. 2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari kegiatan pengembangan tanaman melon di lahan gambut adalah :
(1) Mencari alternatif pemanfaatan lahan gambut tidur yang berada di sisi –sisi jalan menjadi lahan produktif sehingga mengurangi tingkat kebakaran lahan.
(2) Memberikan contoh kepada masyarakat lokal tentang budidaya melon ramah lingkungan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Mendukung program pemerintah dalam upaya melaksanakan pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan.
b. Memotivasi masyarakat sekitar untuk memanfaatkan gambut menjadi lahan yang produktif dengan mengusahakan tanaman bernilai ekonomis tinggi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1. Kesimpulan Berdasarkam hasil uji coba yang telah diuraikan, disimpulkan bahwa dalam upaya pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif, yaitu sistem budidaya yang menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh positf bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini. 1. Abu serbuk gergaji dan pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot buah per tanaman. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22,5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1, masing-masing 149,0 cm dan 1166,7 g per tanaman. 2. Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang tanaman 135,3 cm dan bobot buah 1530,0 g per tanaman.
3. Varietas Action 434 mempunyai daya adaptasi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Mai 116 dan Ladika. Jenis mulsa yang berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon adalah mulsa plastik perak.
4. Pupuk organik padat Supernasa dan kombinasi pupuk N, P, K yang diberikan bervariasi dosis secara sinergis dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Dosis pupuk organik padat Supernasa dan kombinasi pupuk N, P, K yang memberikan hasil tertinggi masing masing 10 kg ha-1 dan kombinasi N, P, K (250 kg ha-1 urea : 450 kg ha-1 SP 36 : 250 kg ha-1 KCl) dengan bobot buah 2733,3 g per tanaman.
5. Pemberian pupuk kotoran ayam bersama pupuk organik padat Supernasa memberikan pengaruh positif terhadap panjang tanaman dan bobot buah per tanaman. Bobot buah terberat diperoleh pada pemberian pupuk kotoran ayam dengan dosis 22,5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa 10 kg ha-1, yaitu 2650,0 g per tanaman.
6. Bobot buah per tanaman yang diperoleh pada uji coba menggunakan sistem tanam dengan bedengan belum mampu mencapai potensi rata-rata varietas yang diuji cobakan. Varietas Ladika memiliki potensi rata-rata 1800 – 2000 g, Mai 116 rata-rata 2500 g, dan varietas Action 434
memilki potensi rata-rata 2000 – 2500 g. Bobot buah terberat yang diperoleh pada sistem bedengan hanya 1530,0 g. Sedangkan bobot buah terberat yang diperoleh pada uji coba menggunakan sistem budidaya inovatif sudah mampu mencapai rata-rata potensi hasil varietas Action 434, yaitu 2650,0 g dan 2733,3 g.

5.2. Saran
1. Untuk pengembangan tanaman melon di lahan gambut, dianjurkan menerapkan sistem budidaya inovatif dengan menggunakan varietas Action 434 bersama pemberian pupuk kotoran ayam, pupuk organik padat Supernasa dan kombinasi pupuk N,P,K dengan dosis masing-masing 22,5 ton ha-1, 10 kg ha-1, dan kombinasi N, P, K (250 kg ha-1 urea : 450 kg ha-1 SP 36 : 250 kg ha-1 KCl).
2. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa lama pengaruh residu amelioran yang diberikan dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman melon di lahan gambut.
3. Untuk meningkatkan kualitas pupuk kotoran ayam sebagai sumber bahan organik dapat dilakukan melalui pengomposan dengan menambahkan sumber bahan organik lain dan bahan campuran lainnya.
memilki potensi rata-rata 2000 – 2500 g. Bobot buah terberat yang diperoleh pada sistem bedengan hanya 1530,0 g. Sedangkan bobot buah terberat yang diperoleh pada uji coba menggunakan sistem budidaya inovatif sudah mampu mencapai rata-rata potensi hasil varietas Action 434, yaitu 2650,0 g dan 2733,3 g. 5.2. Saran 1. Untuk pengembangan tanaman melon di lahan gambut, dianjurkan menerapkan sistem budidaya inovatif dengan menggunakan varietas Action 434 bersama pemberian pupuk kotoran ayam, pupuk organik padat Supernasa dan kombinasi pupuk N,P,K dengan dosis masing-masing 22,5 ton ha-1, 10 kg ha-1, dan kombinasi N, P, K (250 kg ha-1 urea : 450 kg ha-1 SP 36 : 250 kg ha-1 KCl). 2. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa lama pengaruh residu amelioran yang diberikan dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman melon di lahan gambut. 3. Untuk meningkatkan kualitas pupuk kotoran ayam sebagai sumber bahan organik dapat dilakukan melalui pengomposan dengan menambahkan sumber bahan organik lain dan bahan campuran lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Tags

Blog Archive